اِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي ِﷲِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sabtu, Oktober 10, 2015
Ukhuwah
Ukhuwah yang terjalin bagai untaian doa Rabithah..
Sahabat,
Sahabat,
Pernahkah berfikir kenapa kita dipertemukan?
Allah mempertemukan kita untuk satu alasan.
Entah untuk memberi atau menerima.
Entah untuk belajar atau mengajarkan.
Entah untuk bercerita atau mendengarkan.
Entah untuk sesaat atau selamanya.
Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.
Semua tidak ada yang sia-sia, karena Allah yang mempertemukan
Hidup kita saling mengisi, bersinggungan.
Bisa
jadi kehadiran kita adalah jawaban atas do'a-do'a sahabat kita,
sebagaimana mereka pun adalah jawaban atas do'a-do'a kita. Jika sudah
menjadi takdir Allah, meski dengan jarak beribu-ribu kilometer kita
tetap akan dipertemukan, dalam satu ikatan bernama "Ukhuwah". Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Sesungguhnya
di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan Nabi, dan
bukan pula Syuhada. Tetapi para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di
hari kiamat nanti, disebabkan kedudukan yang diberikan Allah kepada
mereka". "Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka?"
Ujar
sahabat: "Agar kami bisa turut mencintai mereka." Lalu Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang
saling mencintai karena Allah tanpa ada hubungan keluarga dan nasab di
antara mereka. Demi Allah, wajah-wajah mereka pada hari itu bersinar
bagaikan cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak takut di
saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saat manusia sedih.” (HR.
Abu Dawud)
Dalam Hadits lain disebutkan:
"Di
sekitar Arsy Allah ada menara-menara dari cahaya, didalamnya terdapat
orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka bercahaya,
mereka bukan Nabi atau pun Syuhada. Para Nabi dan syuhada iri kepada
mereka". Ketika ditanya para sahabat: “Siapakah mereka itu ya Rasulullah
?”
Rasulullah menjawab:
“Mereka
adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling
bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (HR.
Tirmidzi)
Semoga kita adalah golongan orang-orang yang dicemburui oleh para Nabi dan syuhada ^^
TARBIYAH : "Curahan hati kepada sang Murabbi"
SAYA MAU KELUAR DARI TARBIYAH SAJA !!!
"Ustadz, dulu ana merasa semangat dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.
Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.
"Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.
Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu sudah diketahuinya sejak awal. "Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok, layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?" tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.
Sang mad'u terdiam berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umoan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?" sang murabbi mencoba memberi opsi.
"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Apakah antum pandai berenang? Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana kalau ikan hiu datang? Darimana antum mendapatkan makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin? kalau pun antum mampu berenang dan sampai ke daratan, apakah antum yakin tiba di pulau berpenghuni? atau pulau itu hanya lah pulau mati yang didiami binatang buas? kalau ppun pulau itu berpenghuni, apakah kamu dapat menjamin manusia yang hidup di dalamnya adalah manusia yang ramah, sopan, santun, alim, seideal jama'ah impian mu selama ini?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.
Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
"Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.
"Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya? tanya sang murabbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.
Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan.."
"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.
Sang murabbi tersenyum, "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tpi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kelebihan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang beproses menjadi manusia terbiak piliha Allah."
"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.
"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kaafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. KItalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."
"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!" Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal yang tetap menggelayut dihatinya.
"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.
"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!" sahut sang murabbi.
"Allah memasukkan kita ke dalam surga bukan karena kita mampu menyempurnakan Jama'ah, menciptakan organisasi tanpa kelemahan. Namun Allah melihat apa yang telah kita kerjakan untuk agamanya, sekecil apapun peran tersebut. Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala hal ghil ( dengki, benci, iri hati ) antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaanya."
Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantam memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullayl malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.
Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya Demikian juga yang diharapkan dari Antum/antumna yang membaca tulisan ini.. in syaa Allah kita tetap istiqomah dijalan dakwah ini.. Dalam samudera tarbiyah ini..
Wallahu a'alam.
Sumber : Majalah Al-Izzah, No. 07/ Th.4 (dengan perubahan seperlunya)
"Ustadz, dulu ana merasa semangat dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.
Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.
"Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.
Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu sudah diketahuinya sejak awal. "Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok, layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?" tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.
Sang mad'u terdiam berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umoan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?" sang murabbi mencoba memberi opsi.
"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Apakah antum pandai berenang? Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana kalau ikan hiu datang? Darimana antum mendapatkan makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin? kalau pun antum mampu berenang dan sampai ke daratan, apakah antum yakin tiba di pulau berpenghuni? atau pulau itu hanya lah pulau mati yang didiami binatang buas? kalau ppun pulau itu berpenghuni, apakah kamu dapat menjamin manusia yang hidup di dalamnya adalah manusia yang ramah, sopan, santun, alim, seideal jama'ah impian mu selama ini?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.
Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
"Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.
"Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya? tanya sang murabbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.
Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan.."
"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.
Sang murabbi tersenyum, "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tpi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kelebihan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang beproses menjadi manusia terbiak piliha Allah."
"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.
"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kaafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. KItalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."
"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!" Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal yang tetap menggelayut dihatinya.
"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.
"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!" sahut sang murabbi.
"Allah memasukkan kita ke dalam surga bukan karena kita mampu menyempurnakan Jama'ah, menciptakan organisasi tanpa kelemahan. Namun Allah melihat apa yang telah kita kerjakan untuk agamanya, sekecil apapun peran tersebut. Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala hal ghil ( dengki, benci, iri hati ) antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaanya."
Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantam memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullayl malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.
Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya Demikian juga yang diharapkan dari Antum/antumna yang membaca tulisan ini.. in syaa Allah kita tetap istiqomah dijalan dakwah ini.. Dalam samudera tarbiyah ini..
Wallahu a'alam.
Sumber : Majalah Al-Izzah, No. 07/ Th.4 (dengan perubahan seperlunya)
Langganan:
Komentar (Atom)